Pertama di Jawa Timur, Sawah yang Didanai Wakaf Memasuki Masa Panen

MOJOKERTO .INDEXBERITA.COM Musim panen menjadi hari yang ditunggu-tunggu bagi petani, begitu juga bagi Global Wakaf-ACT, Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia (YP3I), dan Gema Petani. Padi yang pada Desember 2020 lalu ditanam di Dusun Tumpangsari, Desa Jiyu, Kecamatan Kutorejo, Mojokerto, kini siap dipanen. Ikhtiar dalam proses mewujudkan kedaulatan pangan umat melalui pengelolaan Wakaf Sawah Produktif (WSP) mulai membuahkan hasil. Bahkan ini menjadi panen pertama di Jawa Timur (Jatim) yang mana sawah dan proses produksi taninya didanai dari wakaf.

Intervensi wakaf pada produksi tani dimulai sejak pembibitan. Bibit yang digunakan adalah jenis HMS700, yang mana dalam satu malai dapat mencapai 700 bulir. Lalu dalam pemeliharaan, para petani juga diberikan biaya dan akses untuk mendapatkan pupuk. Sehingga, kualitas padi terjaga dan mendapatkan hasil maksimal. Gabah yang dipanen juga akan dibeli ACT dengan harga terbaik untuk pendistribusian beras bagi warga prasejahtera selama Ramadhan, melalui Gerakan Sedekah Pangan Ramadhan (GSPR) dan aksi-aksi kemanusiaan lainnya.

Ini membuktikan bahwa wakaf dapat menjadi motor penggerak dalam menyejahterakan petani. Panen ini menjadi oase di tengah isu rencana ekspor beras. Kebijakan ekspor beras jelas mengancam penyerapan hasil para petani. Akibatnya, harga padi jatuh dan tak dapat menutupi modal yang telah dikeluarkan para petani lokal.

“Kita bertekad memperjuangkan kesejahteraan para petani. Niat dan semangat besar itu dimulai dari panen raya pertama di Jatim yang dibiayai wakaf di Dusun Tumpangsari. Hasil panen diserap ACT untuk kebutuhan Gerakan Sedekah Pangan Ramadhan dan aksi-aksi kemanusiaan lainnya,” kata Presiden Aksi Cepat Tanggap Ibnu Khajar, Sabtu (10/4/2021).

Gerakan Sedekah Pangan Ramadhan akan meluaskan pendistribusian Beras Wakaf yang merupakan hasil panen sawah di Mojokerto kali ini. Dengan memastikan suplai pangan warga prasejahtera terjaga saat Ramadan, diharapkan para penerima manfaat tidak perlu khawatir kekurangan pangan untuk berbuka puasa maupun sahur.

Ibnu menambahkan, melihat besarnya peran petani dalam produksi pangan ini, pantaslah jika para petani disebut sebagai pahlawan yang sebenarnya. “Karena pertanian adalah pondasi kehidupan di dunia ini. Maka dengan demikian, para petani adalah pahlawan yang menyelamatkan kehidupan.” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Pembina YP3I K.H. Mahfudz Syaubari mengatakan, panen raya menjadi suatu kebahagiaan bagi petani. Kebahagiaan itu muncul setelah lebih kurang tiga bulan memelihara dan menjaga padi seperti anak sendiri. Para petani juga berbahagia jika padi yang ia tanam dapat bermanfaat bagi dirinya juga untuk kemaslahatan umat.

“Kebahagiaan petani datang karena padi yang ia tanam siap dipanen. Kebahagiaan itu bertambah saat padi yang ia hasilkan digunakan untuk kemaslahatan umat, menolong warga pra sejahtera, yang membutuhkan, dan kelaparan,” ujarnya.

Panen raya pertama di Jatim dari sawah yang didanai wakaf melalui program Wakaf Sawah Produktif akan dilakukan di Dusun Tumpangsari, Desa Jiyu, Kecamatan Kutorejo, Mojokerto. Total sawah yang dipanen mencapai sekitar 9 hektare dengan hasil sebanyak 110 ton. Selain di Mojokerto, sawah di empat wilayah lain yakni Pasuruan, Malang, Ponorogo, dan Sidoarjo, dalam program Wakaf Sawah Produktif pada Musim Tanam ke-1 (MT-1) juga memasuki musim panen.

Dalam aktivitasnya, program Wakaf Sawah Produktif melibatkan 3.000 petani, 22.500 tenaga kerja. Selain itu ada 2.500 pesantren yang terberdayakan dengan 23.500 santri yang menerima manfaat per bulan. Di luar itu, 440.474 KK yang menjadi penerima manfaat. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *