Dua Pelaku Pencabulan di Dlanggu Mojokerto Belum Ditahan, Kades Sumbersono : Warga Resah Kenapa Belum ada Penanganan

Foto.Kades Sumber Sono,ADE MARTTA

MOJOKERTO,INDEXBERITA.COM— Warga Desa Sumbersono Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto belakangan resah karena dua pelaku pencabulan terhadap anak di bawah umur di desa tersebut masih dibiarkan bebas berkeliaran dan belum ada penanganan.

Peristiwa yang mencoreng nama desa tersebut terjadi sekitar dua bulan lalu. Dimana seorang anak yang duduk dibangku SMP kelas VIII inisial PD (15) menjadi korban pencabulan oleh dua orang tetangganya. Ironisnya hingga korban hamil usia 5 bulan, kedua pelaku belum ditahan.

 

Perlu diketahui, pelaku perzinahan tersebut merupakan dua kakek sudah berusia uzur, P (65) dan W (57). Polres Mojokerto menyebut bahwa kedua kakek tersebut sudah ditetapkan sebagai tersangka, namun belum ditahan karena pertimbangan usia dan kondisi Pandemi Covid-19 saat itu masih tinggi.

Saat ini korban tengah mengandung usia 5 bulan, namun kedua pelaku yang tak jauh dari rumah korban belum juga ditahan kepolisian.

 

Korban tinggal bersama neneknya, mbah Alpiah (70) di Dusun Sumbersono, Desa Sumbersono, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto. Mbah Alpiah merawat PD yang ditinggal orang tuanya sejak bayi usia 10 bulan.

 

Menyikapi hal itu, Kepala Desa Sumbersono, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, Ade Martta Primadhi mengatakan bahwa warga setempat sangat ingin kedua pelaku segera diproses hukum.

“Masyarakat intinya sudah geram sekali dengan pelaku, dan ingin pihak kepolisian untuk segera menangani,” ujar Ade Martta yang ditemui Kamis, (23/9) di kantornya.

 

Sedikit kilas balik, Ade Martta menerangkan bahwa kronologi kejadian pencabulan tersebut berlangsung sekitar dua bulan yang lalu. Ketika itu nenek Korban, sekitar habis maghrib, sedang mengikuti kegiatan pengajian orang meninggal dunia di desa setempat. Saat itu pelaku mendatangi rumah korban dan terjadilah tindakan asusila pencabulan.

“Ada saksi juga di TKP (tempat kejadian perkara, red), jadi korban tidak punya sumur untuk ambil air, dan itu juga sempat dilakukan pencabulan di gudang,” terangnya.

 

Kalau menurut pengakuan dari korban, imbuh Ade Martta, pelakunya dua orang. korban dipaksa lalu diberi uang kurang lebih Rp 20 ribu dan Rp 50 ribu. Satu pelaku melakukan tindakan asusila sebanyak dua kali, dan pelaku lainnya empat kali.

“Kondisi korban sekarang hamil usia kandungan sekarang kurang lebih mencapai 5 bulan,” ujarnya.

 

Masih kata Ade Martta, meskipun warga geram, namun tidak sampai terjadi pemukulan atau kekerasan terhadap kedua pelaku. Warga sangat tidak suka dengan pelaku, terlebih juga keadaan korban juga sangat prihatin, menempati rumah yang tidak layak.

“Terus terang ungkapan dari keluarga ingin cepat-cepat segera diproses, kebetulan juga kemarin saya berterimakasih banyak dengan pucuk pimpinan Kabuoaten Mojokerto, bu Ikfina(Bupati Mojokerto), Gus Barra (Wabup Mojokerto) beserta istrinya sudah langsung meninjau ke rumah korban, dan sangat membantu untuk korban yang sangat miskin ini, kalau warga saya itu inginnya segera diproses dan ditahan,” imbuh Ade Martta.

 

Selain dalam kehidupan korban yang tidak kayak, kata Ade Martta, kondisi prikologis korban sangat minder sekali. Untuk mengatasi beban psikologis tersebut, Ade menyebut bahwa korban sudah ditangani oleh Unit Perlindungan oleh Pemkab Mojokerto. Selain itu pemkab juga sudah menerjunkan psikolog untuk memulihkan kejiwaan korban. Selain itu, bidan desa juga rajin memantau perkembangan janin di tubuh korban.

“Dari desa terus terang sudah ada bantuan berupa sembako setiap bulannya, terus ada bantuan uang, alhamdulillah kita juga bekerjasama dengan bidan desa untuk memeriksa kondisi kehamilan korban dan terus akan dikawal sampai kelahiran, kebetulan Gus Barra dengan bu Wabup langsung mengontrakkan rumah, nanti posisi korban aman, Insya Allah,” terang Ade Martta.

 

Ade Martta berharap pihak kepolisian untuk segera menangani. Terkait dua pelaku yang belum ditahan dan masih berkeliaran, Ade menyebut mungkin masih proses di Polres.

“Mungkin masih proses, karena katanya juga masih overload dan faktor usia juga,

Warga inginnya pihak berwajib untuk segera menangani proses ini supaya lebih cepat lagi, banyak warga yang resah kenapa sampai sekarang belum ada penanganan,” pungkasnya.(Syim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *