Mojokerto, Indexberita.com – Peringatan Hari Santri Nasional menjadi pengingat bahwa pesantren tidak hanya berperan dalam pendidikan keagamaan, tetapi juga memiliki sejarah panjang dalam membangun persatuan dan memperjuangkan masa depan Indonesia.
Pendiri sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet, Kabupaten Mojokerto, Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, MA, mengajak para santri untuk meneladani perjuangan para ulama dengan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan pembangunan bangsa.
Menurut Kiai Asep, semangat perjuangan santri tidak boleh berhenti pada mengenang peristiwa masa lalu. Nilai-nilai yang diwariskan para ulama perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui pendidikan, persatuan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Ia menilai, salah satu pelajaran penting dari sejarah perjuangan kemerdekaan adalah kekuatan persatuan. Sebelum terbentuknya organisasi Nahdlatul Ulama pada 1926, perjuangan sejumlah pesantren menghadapi penjajah masih berjalan sendiri-sendiri.
Kehadiran NU kemudian menjadi bagian dari upaya menyatukan kekuatan pesantren yang memiliki kesamaan pandangan keagamaan Ahlussunnah wal Jama’ah.
Kiai Asep juga mengingatkan kembali peran Hadratussyeikh KH. Hasyim Asy’ari dalam menggerakkan perjuangan melalui Resolusi Jihad yang diperingati setiap 22 Oktober.
Resolusi tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan, terutama menjelang pertempuran besar di Surabaya pada November 1945.
Melalui fatwa tersebut, para ulama menyerukan kewajiban mempertahankan kemerdekaan dari ancaman penjajahan. Seruan itu turut membangkitkan semangat perjuangan rakyat, termasuk kalangan santri.
Selain KH. Hasyim Asy’ari, Kiai Asep turut menyoroti kontribusi KH. Abbas Abdul Jamil dari Cirebon dalam rangkaian perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Surabaya.
Ia menjelaskan bahwa keterlibatan para ulama dalam perjuangan tersebut menunjukkan bahwa pesantren memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar lembaga pendidikan.
Pada momentum Hari Santri Nasional 2026, Kiai Asep juga menyampaikan dukungan terhadap pengusulan KH. Abbas Abdul Jamil dan KH. Muhammad Yusuf Hasyim sebagai Pahlawan Nasional.
Menurutnya, proses pengusulan gelar tersebut perlu berlandaskan penelitian sejarah yang kuat dan pertimbangan akademis. Dengan demikian, penghargaan terhadap tokoh bangsa dapat diberikan berdasarkan bukti serta rekam jejak perjuangannya.
Ia berharap kajian yang dilakukan Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GD) menjadi landasan objektif dalam proses penilaian kedua tokoh tersebut.
Lebih lanjut, Kiai Asep mengajak para santri untuk menjadikan peringatan Hari Santri sebagai kesempatan memperkuat semangat belajar, meningkatkan kualitas diri, dan mengambil bagian dalam pembangunan daerah.
Ia berharap kemajuan dapat dimulai dari lingkungan terdekat, termasuk melalui peningkatan kualitas pendidikan dan kontribusi masyarakat di Kabupaten Mojokerto.
Menurut Kiai Asep, semangat perjuangan para pendahulu harus diteruskan melalui karya dan pengabdian yang memberikan manfaat bagi banyak orang.
Dengan meneladani persatuan ulama dan santri, generasi muda diharapkan mampu menghadapi tantangan zaman sekaligus mengambil peran dalam mewujudkan Indonesia yang maju, adil, dan makmur.(Syim)