Mojokerto, Indexberita.com – Suasana penuh kehangatan dan kebersamaan terasa di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Mojokerto pada Sabtu pagi (7/6/2025), saat digelar kegiatan “Nyate Bareng” bersama warga binaan dalam rangka peringatan Hari Raya Idul Adha 1446 Hijriah.
Kepala Kantor Wilayah Kemenkumham Jawa Timur, Kadiono, yang hadir dalam kegiatan tersebut, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini yang dianggap sebagai bentuk nyata kepedulian dan pembinaan kemanusiaan kepada warga binaan.
“Kegiatan ini sangat baik dan mulia. Bagaimana para petugas memperlakukan warga binaan sebagai satu keluarga besar yang tetap dijaga silaturahminya. Mereka juga bagian dari masyarakat yang berhak merasakan semarak Idul Adha,” ujar Kadiono.
Kadiono juga menekankan pentingnya kegiatan semacam ini sebagai upaya menjaga ketenangan batin para warga binaan agar mereka dapat menjalani masa pembinaan dengan lebih positif dan penuh semangat untuk berubah.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Ketua DPRD Kabupaten Mojokerto Ayni Zuhro, Ketua DPRD Kota Mojokerto Ery Purwanti, dan Staf Ahli Gubernur Jawa Timur, Yunita Linda. Mereka semua ikut menyapa para warga binaan dan menyambut kegiatan dengan antusias.
Kepala Lapas Mojokerto, Rudy Kristiawan, mengungkapkan bahwa kegiatan nyate bareng ini adalah yang pertama kali digelar dalam momen Idul Adha di Lapas Mojokerto.
“Kami ingin menghadirkan suasana kekeluargaan meski di balik jeruji. Setidaknya para warga binaan bisa merasakan atmosfer Idul Adha seperti di rumah. Inilah bentuk kepedulian kami terhadap mereka,” ungkap Rudy.
Dalam kegiatan tersebut, disiapkan lebih dari 5.000 tusuk sate yang dibakar dan dinikmati bersama antara petugas dan warga binaan. Salah satu warga binaan asal Kunjorowesi, Ngoro, bernama Asyedi (44), mengaku terharu dan bersyukur atas perubahan besar sejak Kalapas dipimpin oleh Rudy Kristiawan.
“Dulu tidak pernah ada acara seperti ini. Sekarang bisa makan sate bareng, rasanya seperti di rumah. Kami merasa diperhatikan,” ucapnya haru.
Kegiatan nyate bareng ini bukan hanya sekadar seremonial, tetapi menjadi simbol kuat pendekatan humanis dalam pembinaan narapidana, serta bentuk sinergi antara Lapas, pemerintah daerah, dan tokoh masyarakat.(Syim)














