JOMBANG, Indexberita.com Penanganan cepat menjadi faktor penting dalam menyelamatkan pasien yang mengalami serangan jantung. Pasalnya, keterlambatan penanganan dapat menyebabkan kerusakan otot jantung secara permanen hingga meningkatkan risiko kematian.
Hal tersebut disampaikan dr. David Rubiyaktho, Sp.JP (K), Subsp.K.I, FIHA, FAPSIC, dalam kegiatan Humas RSUD Jombang Menyapa, Kamis pagi (5/11/2026).
Dalam kesempatan tersebut, dr. David menjelaskan bahwa serangan jantung terjadi ketika pembuluh darah koroner mengalami penyumbatan sehingga aliran darah yang membawa oksigen dan nutrisi menuju otot jantung terhenti.
Menurutnya, kondisi tersebut harus segera ditangani. Sebab, semakin lama aliran darah terhambat, semakin besar pula risiko kerusakan otot jantung. Bahkan, jaringan otot jantung yang sudah mati akibat kekurangan aliran darah tidak dapat kembali seperti semula.
Selain serangan jantung akut, masyarakat juga perlu mewaspadai gejala penyempitan pembuluh darah koroner. Salah satu tanda yang sering muncul adalah nyeri dada ketika melakukan aktivitas fisik.
Misalnya, seseorang yang sebelumnya mampu berjalan jauh atau menaiki tangga tanpa keluhan, tiba-tiba mengalami nyeri dada, mudah lelah, hingga sesak napas saat beraktivitas.
Namun, dr. David mengingatkan bahwa tidak semua keluhan tersebut otomatis menandakan seseorang harus menjalani pemasangan ring jantung. Pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk memastikan kondisi pasien dan menentukan tindakan yang benar-benar dibutuhkan.
Ia juga menyoroti kebiasaan masyarakat yang kerap menunda pemeriksaan atau penanganan karena harus menunggu persetujuan keluarga. Padahal, pada kasus serangan jantung, waktu menjadi faktor yang sangat menentukan keselamatan pasien.
“Semakin cepat sumbatan dibuka, semakin cepat pula aliran darah kembali mengalir untuk memenuhi kebutuhan otot jantung,” jelasnya.
Lebih lanjut, dr. David menerangkan bahwa prosedur pemasangan ring jantung atau stent tidak selalu membutuhkan waktu lama. Pada kondisi tertentu, tindakan tersebut bahkan dapat diselesaikan sekitar 30 menit, sedangkan kasus yang lebih kompleks bisa membutuhkan waktu hingga dua jam.
Prosedur dilakukan melalui pembuluh darah, biasanya di pergelangan tangan atau lipatan paha. Pasien umumnya tetap dalam kondisi sadar karena tindakan tersebut menggunakan pembiusan lokal, bukan pembiusan total seperti operasi besar.
Selama prosedur berlangsung, dokter memantau kondisi pasien melalui sejumlah monitor yang menampilkan gambaran pembuluh darah, rekaman aktivitas listrik jantung, serta tekanan darah.
Dengan demikian, pemasangan ring jantung merupakan tindakan medis minimal invasif yang tidak perlu langsung ditakuti masyarakat.
Dr. David berharap masyarakat semakin memahami pentingnya mengenali gejala penyakit jantung koroner dan tidak menunda pemeriksaan ketika mengalami keluhan.
Kesadaran untuk mendapatkan penanganan medis sedini mungkin menjadi salah satu langkah penting dalam mencegah kerusakan otot jantung yang lebih luas serta mengurangi risiko komplikasi serius.(Syim/adv)
