MOJOKERTO, INDEXBERITA.COM – Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati menjaga komitmen untuk terus mengedukasi para orang tua khususnya para ibu di Kabupaten Mojokerto, agar memperhatikan kesehatan dan pertumbuhan anak-anak sesuai umur.
Mulai dari dalam kandungan dengan memperhatikan asupan gizi, mengawasi dan menjaga tahapan tumbuh kembang anak. Semuanya diuraikan bupati dalam acara Seni Sehat Turunkan Stunting AKB dan AKI (Sehati), Senin (6/11/2023) di Balai Desa Jerukseger, Kecamatan Gedeg. Hadir dalam kegiatan, Ka Dinkes, Camat dan Forkopimca, Sekretaris DP2KBP2,Kades Jerukseger, Ketua TP PKK Jerukseger,Kapus Gedeg.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Ikfina menyampaikan, kata kunci stunting adalah kurang gizi. Secara lengkap, stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada balita akibat kekurangan gizi kronis disertai infeksi yang berulang. Bagi orang tua yang punya anak balita, jangan sampai jatuh dalam status stunting yang berpengaruh terhadap perkembangan otak. Sebab jika bayi-bayi lahir dalam kondisi stunting, maka dapat berisiko mengurangi kecerdasan hingga 20 persen di bawah standar.
“Maka dari itu penuhi gizi mereka denhan makanan mengandung zat pembangun dari protein hewani (ayam, daging, ikan, telur) dan protein nabati (kacang-kacangan). Kelahiran bayi stunting sebenarnya bisa dicegah sedini mungkin sejak calon penganting, saat hamil, bahkan sejak masih remaja dengan mencukupi zat besi supaya tidak kurang darah,” kata bupati.
Selain kesehatan, bupati juga mengedukasi para ibu agar melimpahkan kasih sayang sebanyak-banyaknya untuk membangun karakter. Bupati mendorong para ibu untuk menegakkan sikap mendidik mulai dari hal sederhana seperti makan.
Lebih lanjut dikatakan Ikfina, ketika anak sudah mulai bisa diberi makanan pendamping, biasakan dan kenalkan bahwa aktifitas makan itu harus duduk. Jangan biasakan makan sambil beridiri, jalan-jalan, nonton gadget, dan penipuan.
“Penipuan disini artinya jangan biasakan mengalihkan perhatian anak dengan cara apapun agar dia mau makan. Misalnya seolah-olah melihat ada pesawat masuk mulut. Makanan pendamping pun tidak perlu ibu-ibu cicipi. Silahkan campur alpukat dengan hati ayam atau kuning telur, pepaya dengan ikan, silahkan. Bagaimana rasanya? Sekali lagi, tidak perlu penasaran untuk mencicipi. Asalkan anak kita mau, teruskan menyuapi. Anak kita sebelumnya hanya mengenal rasa ASI, jadi tidak perlu garam, gula, apalagi penguat rasa. Semua itu tidak dibutuhkan. Justru kenalkanlah rasa makanan yang asli dan natural,” tambah bupati.