MOJOKERTO, IndexBerita.com— Aksi mogok kerja yang dilakukan para sopir truk di bawah Gerakan Sopir Jawa Timur (GSJT) dengan tuntutan “STOP Razia ODOL” (Over Dimension Over Loading) mulai berdampak langsung ke masyarakat. Di Pasar Tanjung, Kota Mojokerto, harga sayur mayur mengalami lonjakan drastis hingga tiga kali lipat, Jumat (20/6/2025) pagi.
Ari Mujianto, seorang pedagang sayur di Pasar Tanjung, mengaku kesulitan mendapatkan pasokan barang.
“Penjualan hancur, harganya jadi tiga kali lipat. Pengiriman macet semua, gak ada barang. Pasar kosong hampir tiga hari. Harapannya diperjelas lah perjalanan, dipermudah, biar sama-sama orang kerja bisa makan,” keluhnya.
Hal serupa dirasakan Muhammad Pailin, pedagang lain di pasar tersebut.
“Pasokan sayur luar biasa naik harganya. Ugal-ugalan, Mas. Selada, tomat — masyaallah. Kemarin Rp 12 ribu, sekarang Rp 25 ribu. Selada dari Rp 20 ribu jadi Rp 50 ribu. Barang datang gak biasa, biasanya siang, sekarang malam, mungkin biar gak ditahan. Mudah-mudahan cuma dua hari ini saja, gak tambah ribet,” jelasnya.
Tak hanya pedagang, para pembeli juga terkena imbas. Suliyasih, salah satu konsumen dan pengecer mengaku terpaksa tidak bisa berjualan.
“Gak ada barang. Semua harga mahal. Kiriman dari Banyuwangi, Jember, gak bisa jalan. Lombok kecil biasanya Rp 40 ribu jadi Rp 75 ribu. Lombok merah dari Rp 15 ribu jadi Rp 30 ribu. Harapan saya jangan lama-lama demo-nya, kasihan petani dan pedagang,” ungkapnya.
Aksi demo sopir truk ini dipicu oleh razia intensif kendaraan ODOL yang dinilai memberatkan sopir. Akibat mogok kerja massal ini, distribusi logistik dari berbagai daerah ke Mojokerto terganggu, terutama pasokan bahan pokok dan sayur-mayur.(Syim)













