
Foto. Rumah Edukasi Limbah Kayu Sugaly Art di Mojokerto, Sulap Limbah Kayu Jadi Karya Seni
Mojokerto, Indexberita.com – Sugaly Art atau lebih tepatnya galeri seni merupakan galeri kerajinan yang didirikan oleh Agus Suyono (48), iya mendirikan Rumah Edukasi Limbah Sugaly Art di Jalan provinsi yang terletak di depan Universitas Islam Majapahit (Unim).
Agus Suyono merupkan seorang seniman yang berasal dari Desa Gebang Malang, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto. Galeri yang didirikan Agus merupakan tempat untuk belajar dan menjual hasil karya dari Agus, bukan hanya dari Agus, karya yang terpajang di galerinya juga dari beberapa teman seniman di Mojokerto dan Jawa Timur.
Sugaly Art buka setiap hari, dari pukul 07.00 WIB – sampai dengan 16.00 WIB. Bukan hanya kerajinan dari limbah kayu yang dihasilkan dan diperjual belikan dari galeri ini, ada juga dari tumbuhan, biji – bijian, karya seni lukis, aneka vandel dan masih banyak keragaman seni yang bisa dikerjakan disini mulai dari seni rupa maupun terapan.
Bagian depan galeri berisi hasil semua karya seni, sedangkan untuk bagian belakang terdapat sebuah bengkel yang sehari – harinya digunakan oleh Agus untuk menghasilkan karya seni yang bernilai sangat tinggi.
Saat memasuki galeri akan disambut oleh beberapa karya seni, antara lain lukisan sosok, seni ukir patung, miniatur Candi Borobudor, Candi Tikus hingga yang paling unik adalah miniatur orang dalam posisi duduk tahiyat akhir dan miniature sosok Semar yang di ciptakan Agus secara alami dari serat kayu.
Nama galeri Sugaly Art sebenarnya berasal dari nama Agus sendiri yang di balik menjadi Suga, berawal dari modal Rp. 10 ribu Agus memulai usaha dengan membuat sangkar burung.
“pada awal perjalanan memulai usaha saya hanya mempunyai modal Rp. 10 ribu untuk bisa membuat sangkar burung, itu pun waktu pengerjaan memakan waktu empat hari karena masih memakai alat sederhana,” ucap Agus saat cerita kepada Indexberita.com, Kamis (26/1/2023).
Sangkar burung yang dijual waktu itu laku terjual Rp.20 ribu, angka yang sangat kecil dengan waktu pengerjaan yang lama, namun Agus tidak patah semangat, karena yang paling utama dalam seni adalah suatu karya, dari pengalaman tersebut selanjutnya Agus hanya memilih reparasi sangkar burung dengan upah Rp.25 ribu sampai Rp.45 ribu.
“seiring berjalannya usaha reparasi saya juga menerima permintaan melukis kaligrafi dan sosok.”
Jiwa seniman memang sangat melekat pada sosok Agus, hingga Agus pernah menjadi penjual hasil lukisannya dengan berkeliling menggunakan sepeda perang (onthel), bahkan Agus pernah melukis menggunakan kain mori hal itu terlihat bahwa jiwa kreativitas seniman itu harus inovatif yang artinya bisa memanfaatkan barang apapun di sekeliling kita menjadi sesuatu karya yang berharga.
Setelah saya mengenal alat listrik, saya mulai menabung guna membeli peralatan listrik yang nantinya akan berguna bagi kelangsungan perkembangan karir saya dalam bidang seni, saya juga membuka pelatihan tentang seni, “ilmu itu harus diajarkan biar mengalir,” kata Agus. Bahkan tak jarang banyak anak dari mahasiswa dari Universitas ternama melakukakn magang di Sugaly Art.
Saat ini ada dua orang karyawan, dulunya saya mempunyai enam karyawan dan delapan anak didiknya yang mewarisi ilmunya, bahkan terkadang saat banjir orderan Agus memberikn pesanan kepada anak didiknya.
Namanya usaha pasti ada pasang surutya, hal itu dijelaskan oleh Agus bahwa untuk saat ini omzet menyusut.
“pada saat musim corona dulu, omzet bisa sampai Rp. 40 juta samapi Rp. 100 juta per – bulan, sekarang sekitar Rp. 20 juta dalam sebulan, untuk permintaan yang paling banyak, alat peraga pendidikan, mainan edukasi, miniature candi yang pernahsamapi ke Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Lombok hingga Bali,” ujarnya.
Semua jenis karya seni di ladeni sama Agus baik mural di sekolah TK, SD, SMP dan SMA. Untuk pembeli biasanya tergantung selera masing – masing, ada yang perorangan biasanya menyukai souvenir kayu, mebel hasil dari kayu yang menjadi limbah, ayunan kuda, namun untuk saat ini rata – rata omzet penjualan karya seninnya turun di angka nomina Rp. 5 juta sampai Rp. 7 Juta per – bulan.
Karya yang dihasilkan oleh Agus hampir semua dari bahan limbah kayu, lewat keterampilan dan kreatifitas – nya limbah tersebut disulap jadi maha karya yang sangat berniali tinggi nilainya.
Menjadi seniman memang harus mempunyai jiwa kreatif dan inovatif hingga mampu mempunyai inisiatif untuk membuka lapangan kerja sendiri sehingga bisa membantu banyak orang yang membutuhkannya.(F/S)













