MOJOKERTO .Indexberita.com Pemerintah Kota Mojokerto menggelar Rembuk Stunting di Ruang Pertemuan Sabha Mandala Madya, Rabu (12/3) pagi. Acara ini dipimpin langsung oleh Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari, bersama jajaran Forkopimda, OPD, serta berbagai elemen masyarakat yang berperan dalam percepatan penurunan angka stunting.
Dalam sambutannya, Ika Puspitasari menegaskan bahwa stunting bukan sekadar persoalan gizi, tetapi juga berkaitan dengan faktor ekonomi, lingkungan, dan pola asuh. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi dan sinergi dari berbagai pihak untuk mencapai target penurunan stunting secara signifikan.
“Rembuk Stunting menjadi tugas penting yang harus kita lakukan bersama. Ini bukan hanya tugas Dinas Kesehatan, tetapi tugas kita semua. Saya menyebutnya tugas keroyokan, karena kita harus bekerja sama untuk menurunkan angka stunting di Kota Mojokerto,” ujar Ika Puspitasari.
Berdasarkan data elektronik pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (e-PPGBM), angka stunting di Kota Mojokerto mengalami penurunan dari 7,71% pada tahun 2020 menjadi 1,54% pada akhir 2024. Tahun ini, Pemerintah Kota Mojokerto menargetkan angka tersebut turun lagi menjadi 1,23% pada 2025.
Sekretaris Daerah Kota Mojokerto, Gaguk Tri Prasetyo, dalam laporannya menyampaikan bahwa tim percepatan penurunan stunting (TPPS) telah dibentuk di tingkat kota, kecamatan, hingga kelurahan. Rembuk Stunting ini menjadi langkah strategis dalam menyusun program kerja untuk tahun 2026 dan akan menjadi bagian dari Musrenbang Kota Mojokerto yang direncanakan berlangsung pada April mendatang.
Ika Puspitasari juga menyoroti pentingnya validitas data dalam program penanganan stunting. Kota Mojokerto telah mengembangkan sistem data terpadu melalui aplikasi Gayatri yang memungkinkan pemantauan kondisi sosial dan kesehatan masyarakat secara lebih akurat.
Selain itu, ia menekankan peran program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan secara nasional. Program ini tidak hanya bertujuan untuk mencegah stunting, tetapi juga memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang cukup sejak usia dini.
“Program MBG ini merupakan upaya konkret pemerintah dalam menyiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045. Semua pihak harus terlibat, termasuk TNI, Polri, dan berbagai organisasi masyarakat, agar program ini berjalan optimal,” tegasnya.
Dengan adanya Rembuk Stunting ini, diharapkan seluruh elemen masyarakat terus bersinergi dalam mewujudkan Kota Mojokerto sebagai Zero Stunting City dan menciptakan generasi masa depan yang sehat dan unggul.(Syim/Adv/kom)













