Category Archives: Investigasi

Komisi C DPRD Kabupaten Jombang Sidak Rehabilitasi Berat Gedung Puskesmas Mojowarno

Komisi C DPRD Kabupaten Jombang Sidak Rehabilitasi Berat Gedung Puskesmas Mojowarno
Komisi C DPRD Kabupaten Jombang Sidak Rehabilitasi Berat Gedung Puskesmas Mojowarno

Foto Komisi C DPRD Kabupaten Jombang Sidak Rehabilitasi Berat Gedung Puskesmas Mojowarno

Jombang Sorotindomedia.com Rehabilitasi berat gedung Puskesmas Mojowarno, yang tepatnya berada di Desa Selorejo Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang, Rabu 4/12/19 Komisi C DPRD Kabupaten Jombang lakukan Inspeksi mendadak (Sidak) ke lokasi Pembangunan Puskesmas Mojowarno

Pembangunan Gedung Puskesmas yang dikerjakan oleh Kontraktor pelaksana PT Ardi Tekindo Perkasa dari Kota Surabaya, yang pelaksanaannya dikerjakan mula Tanggali 26 Juli 2019 dan berakhir Tanggal 28 Desember 2019 atau selama 150 Hari Kalender dengan Nilai kontrak sebesar Rp
2.906.038.392.63 termasuk PPN

Pembangunan yang hampir selesai pelaksanaannya dari waktu yang ditentukan, namun kenyataannya pembangunan belum mencapai 70 persen, akhirnya Anggota komisi C DPRD Kabupaten Jombang lakukan Sidak untuk mengetahui masalah prosedur pengerjaannya apakah sudah sesuai atau tidak

Saat Sidak banyak ditemukan masalah dalam pengerjaan Pembanguna Puskesmas, banyak bahan yang tidak sesuai spec, Amburadulnya pengerjaan yang kurang efektif, rangka plafon juga atap tidak sesuai

Lutfi Kurniawan Anggota Komisi C DPRD Kabupaten Jombang dari fraksi PPP, saat dikonfirmasi mengatakan benar saat lakukan Inspeksi Mendadak atau sidak banyak ditemukan bahan atau material yang tidak sesuai dengan spec, pengerjaannya yang amburadul

Lutfi menambahkan batas waktu pengerjaannya sampai Tanggal 23 Desember 2019 apakah mampu dengan waktu yang tinggal beberapa hari saja, Minggu depan Kontraktor akan dipanggil untuk Hearing * pungkasnya ( Fatur)

Truk Angkut Muatan tanah Galian Bodong Di buka di Sumber Kembar Kutorejo

Truk Angkut Muatan tanah Galian Bodong Di buka di Sumber Kembar Kutorejo
Truk Angkut Muatan tanah Galian Bodong Di buka di Sumber Kembar Kutorejo

Foto Truk Angkut Muatan tanah Galian Bodong Di buka di Sumber Kembar Kutorejo

Mojokerto, Sorotindomedia.com Hampir Sudah tiga Minggu Masih ada Aktifitas tambang uruk  Bodong kembali ada di Dusun sumber kembar Desa Wono Dadi Kecamatan Kutorejo Kabupaten Mojokerto .
dari keterangan warga setempat, aktifitas dugaan kuat tambang bodong ini sudah berjalan hampir tiga minggu.

,” Penambangan ini diambil tanah uruk dan batu krosok (batu kecil) , tiap hari masih terlihat aktifitas alat berat dan sejumlah puluhan armada dam truk yang mengambil dan mengusung uruk dan batu tersebut, entah dibawa kemana, ” kata warga setempat yang enggan di sebut namanya.

Dari pengakuan warga, lahan yang ditambang merupakan lahan pertanian aktif , penambangnya adalah bernama Sugeng asal Dusun Ngaglik Desa Singowangi Kecamatan Kutorejo Mojokerto.

Sedangkan pemilik lahan yang ditambang adalah milik H Yatimah dan Muklas, ” masih ada dua petak lahan , direncanakan ada 12 lahan yang bakal digali.

Terpisah aktifis lingkungan hidup 10 Nopember 1945 Hadi S mengatakan, bahwa pihaknya sudah investigasi turun lapangan terkait dugaan kuat tambang ilegal alias bodong tersebut.

,” Dilokasi hingga saat ini masih aktif ada penambangan, setelah saya telusuri ternyata uruk tanah tersebut dibuat menguruk perumahan yang berada di wilayah Modopuro Mojosari.

Hadi menjelaskan, pengambilan tanah, pasir maupun batu diangkut lalu dipindah dan dijual ini harus berijin, sebab itu merupakan kegiatan tambang, ” Katanya.

Masih kata Hadi, saya menduga kuat penambangan ini ilegal, dalam waktu dekat pihak kami akan mengadu dan melaporkan hal ini ke kementrian lingkungan hidup dan Polda jawa timur yang bakal saya tembuskan ke bu- khofifah Gubernur Jawa Timur,” Pungkasnya. (Syim)

Jalan Pertanian Desa Cendoro Sepanjang 500 Di Urug Limbah

jalan pertanian yang diuruk limbah Jalan sepanjang 500 meter di sebelah pemukiman warga yang menuju Jalan pertanian dengan lebar 3 meter di Dusun Pelem Desa Cendoro Kecamatan Dawarblandong Kabupaten Mojokerto, ternyata diurug dengan limbah baja jenis Steel slag. Seperti diketahui limbah baja jenis Steel slag merupakan limbah hasil peleburan baja dan besi bekas yang termasuk dalam kategori limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) dan menjadi salah satu masalah lingkungan yang harus dipikirkan baik oleh masyarakat maupun instansi terkait. Dari pantauan Wartawan , sangat nampak dan jelas, uruk yang digunakan untuk jalan pertanian tersebut dugaan kuat dari jenis limbah B3 ( Bahan beracun berbahaya) jenis limbah Steel slag, namun masyarakat setempat banyak yang tidak mengerti bila uruk yang digunakan untuk membangun jalan pertanian tersebut adalah limbah berbahaya. Ketika Wartawan melakukan investigasi dan memantau dilokasi tersebut, bertemu dengan salah satu warga bernama Sakrib (65), Ia tahu bila uruk yang digunakan buat uruk jalan pertanian adalah limbah, namun pihaknya tak pernah tahu bila limbah tersebut berbahaya, ” Saya tahu sejak awal mas, uruk yang dipakai untuk jalan pertanian adalah limbah, tapi saya tidak tahu bila limbah itu berbahaya,” katanya, Rabu (11/9/2019). Sementara Kepada Dusun Pelem Desa Cendoro Sujai (49) menjelaskan, bahwa pembangunan jalan pertanian ini dengan menggunakan dana Desa, ditanya soal berapa jumlah nilai anggaran, Kepala Dusun tidak bisa menjelaskan kan, ” yang lebih tahu soal jumlah anggaran adalah pak Kades saat itu, “ungkapnya. ,” Dan yang mendatangkan uruk dari limbah ini adalah pak Carik,” jelasnya. Perlu diketahui bahwa jalan pertanian tersebut merupakan jalan baru, selain ada proyek pengurukan jalan, sebelumnya juga dibangun plengsengan penahan jalan, selanjutnya dilakukan pengurukan. Lebih lanjut, warga setempat juga sebagai ketua RW H. Suem (55) menjelaskan, bahwa urug limbah tersebut adalah Sekdes atau Carik yang mendatangkan, tetapi semua juga atas perintah kepala Desa saat itu yakni Kepala Desa (Kades) Ditanya limbah tersebut berasal dari mana, Suem mengatakan bahwa mobil yang memuat limbah saat itu seingatnya bertuliskan Restu Ibu Abadi,” bebernya. Ditambahkan Suem, Uruk yang digunakan dalam pengurukan jalan pertanian itu adalah uruk limbah,” pembangunan jalan pertanian tersebut memang benar menggunakan uruk limbah lalu di atasnya dilapisi dengan uruk tanah normal, ” Tandas ketua RW dan juga masih besan dengan eks Kepala Desa Cendoro. ,” Meski Pak Kades adalah besan saya, namun saya berbicara apa adanya, sebab para petani maupun kelompok tani tidak pernah diajak berunding soal pembangunan jalan baru tersebut, semua apa kata pak Kepala Desa, ” Cetusnya. Masih kata Suem, masyarakat tani sangat kecewa dengan mantan Kades, mengapa membangun jalan pertanian pakai uruk limbah, ini kan berbahaya. Apalagi saat pembangunan jalan ini tanpa ada musyawarah,” katanya. Tak hanya itu, lanjut Suem, petani juga kecewa terhadap kebijakan Kades soal penyewaan Waduk. Desa Cendoro punya aset waduk seluas 3,7 hektar, namun waduk yang semestinya difungsikan untuk pengairan sawah petani, malah dikontrak orang luar untuk usaha perikanan, sehingga ketika petani butuh air tak bisa menngunakannya. Informasi yang saya dapat waduk tersebut dikontrak orang luar selama 10 tahun, nilai kontrak per tahun berapa, masyarakat Desa Cendoro banyak yang tidak tahu, ” pungkasnya. Hingga berita ini ditayangkan Eks Kades Desa Cendoro Supardi belum bisa ditemui, juga dihubungi melalui seluler itupun tidak diangkat. (wo) Mantan Kades Cendoro Bangun Jalan Pertanian Dengan Uruk Limbah
jalan pertanian yang diuruk limbah Jalan sepanjang 500 meter di sebelah pemukiman warga yang menuju Jalan pertanian dengan lebar 3 meter di Dusun Pelem Desa Cendoro Kecamatan Dawarblandong Kabupaten Mojokerto, ternyata diurug dengan limbah baja jenis Steel slag. Seperti diketahui limbah baja jenis Steel slag merupakan limbah hasil peleburan baja dan besi bekas yang termasuk dalam kategori limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) dan menjadi salah satu masalah lingkungan yang harus dipikirkan baik oleh masyarakat maupun instansi terkait. Dari pantauan Wartawan , sangat nampak dan jelas, uruk yang digunakan untuk jalan pertanian tersebut dugaan kuat dari jenis limbah B3 ( Bahan beracun berbahaya) jenis limbah Steel slag, namun masyarakat setempat banyak yang tidak mengerti bila uruk yang digunakan untuk membangun jalan pertanian tersebut adalah limbah berbahaya. Ketika Wartawan melakukan investigasi dan memantau dilokasi tersebut, bertemu dengan salah satu warga bernama Sakrib (65), Ia tahu bila uruk yang digunakan buat uruk jalan pertanian adalah limbah, namun pihaknya tak pernah tahu bila limbah tersebut berbahaya, ” Saya tahu sejak awal mas, uruk yang dipakai untuk jalan pertanian adalah limbah, tapi saya tidak tahu bila limbah itu berbahaya,” katanya, Rabu (11/9/2019). Sementara Kepada Dusun Pelem Desa Cendoro Sujai (49) menjelaskan, bahwa pembangunan jalan pertanian ini dengan menggunakan dana Desa, ditanya soal berapa jumlah nilai anggaran, Kepala Dusun tidak bisa menjelaskan kan, ” yang lebih tahu soal jumlah anggaran adalah pak Kades saat itu, “ungkapnya. ,” Dan yang mendatangkan uruk dari limbah ini adalah pak Carik,” jelasnya. Perlu diketahui bahwa jalan pertanian tersebut merupakan jalan baru, selain ada proyek pengurukan jalan, sebelumnya juga dibangun plengsengan penahan jalan, selanjutnya dilakukan pengurukan. Lebih lanjut, warga setempat juga sebagai ketua RW H. Suem (55) menjelaskan, bahwa urug limbah tersebut adalah Sekdes atau Carik yang mendatangkan, tetapi semua juga atas perintah kepala Desa saat itu yakni Kepala Desa (Kades) Ditanya limbah tersebut berasal dari mana, Suem mengatakan bahwa mobil yang memuat limbah saat itu seingatnya bertuliskan Restu Ibu Abadi,” bebernya. Ditambahkan Suem, Uruk yang digunakan dalam pengurukan jalan pertanian itu adalah uruk limbah,” pembangunan jalan pertanian tersebut memang benar menggunakan uruk limbah lalu di atasnya dilapisi dengan uruk tanah normal, ” Tandas ketua RW dan juga masih besan dengan eks Kepala Desa Cendoro. ,” Meski Pak Kades adalah besan saya, namun saya berbicara apa adanya, sebab para petani maupun kelompok tani tidak pernah diajak berunding soal pembangunan jalan baru tersebut, semua apa kata pak Kepala Desa, ” Cetusnya. Masih kata Suem, masyarakat tani sangat kecewa dengan mantan Kades, mengapa membangun jalan pertanian pakai uruk limbah, ini kan berbahaya. Apalagi saat pembangunan jalan ini tanpa ada musyawarah,” katanya. Tak hanya itu, lanjut Suem, petani juga kecewa terhadap kebijakan Kades soal penyewaan Waduk. Desa Cendoro punya aset waduk seluas 3,7 hektar, namun waduk yang semestinya difungsikan untuk pengairan sawah petani, malah dikontrak orang luar untuk usaha perikanan, sehingga ketika petani butuh air tak bisa menngunakannya. Informasi yang saya dapat waduk tersebut dikontrak orang luar selama 10 tahun, nilai kontrak per tahun berapa, masyarakat Desa Cendoro banyak yang tidak tahu, ” pungkasnya. Hingga berita ini ditayangkan Eks Kades Desa Cendoro Supardi belum bisa ditemui, juga dihubungi melalui seluler itupun tidak diangkat. (wo) Mantan Kades Cendoro Bangun Jalan Pertanian Dengan Uruk Limbah

Foto Jalan Pertanian Yang Di Urug Limbah

MOOKERTO. Sorotindomeda.com Jalan sepanjang 500 meter di sebelah pemukiman warga yang menuju Jalan pertanian dengan lebar 3 meter di Dusun Pelem Desa Cendoro Kecamatan Dawarblandong Kabupaten Mojokerto, ternyata diurug dengan limbah baja jenis Steel slag.

Seperti diketahui limbah baja jenis Steel slag merupakan limbah hasil peleburan baja dan besi bekas yang termasuk dalam kategori limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) dan menjadi salah satu masalah lingkungan yang harus dipikirkan baik oleh masyarakat maupun instansi terkait.

Dari pantauan Wartawan , sangat nampak dan jelas, uruk yang digunakan untuk jalan pertanian tersebut dugaan kuat dari jenis limbah B3 ( Bahan beracun berbahaya) jenis limbah Steel slag, namun masyarakat setempat banyak yang tidak mengerti bila uruk yang digunakan untuk membangun jalan pertanian tersebut adalah limbah berbahaya.

Ketika Wartawan melakukan investigasi dan memantau dilokasi tersebut, bertemu dengan salah satu warga bernama Sakrib (65), Ia tahu bila uruk yang digunakan buat uruk jalan pertanian adalah limbah, namun pihaknya tak pernah tahu bila limbah tersebut berbahaya, ” Saya tahu sejak awal mas, uruk yang dipakai untuk jalan pertanian adalah limbah, tapi saya tidak tahu bila limbah itu berbahaya,” katanya, Rabu (11/9/2019).

Sementara Kepada Dusun Pelem Desa Cendoro Sujai (49) menjelaskan, bahwa pembangunan jalan pertanian ini dengan menggunakan dana Desa, ditanya soal berapa jumlah nilai anggaran, Kepala Dusun tidak bisa menjelaskan kan, ” yang lebih tahu soal jumlah anggaran adalah pak Kades saat itu, “ungkapnya.

,” Dan yang mendatangkan uruk dari limbah ini adalah pak Carik,” jelasnya.

Perlu diketahui bahwa jalan pertanian tersebut merupakan jalan baru, selain ada proyek pengurukan jalan, sebelumnya juga dibangun plengsengan penahan jalan, selanjutnya dilakukan pengurukan.

Lebih lanjut, warga setempat juga sebagai ketua RW H. Suem (55) menjelaskan, bahwa urug limbah tersebut adalah Sekdes atau Carik yang mendatangkan, tetapi semua juga atas perintah kepala Desa saat itu yakni Kepala Desa (Kades)

Ditanya limbah tersebut berasal dari mana, Suem mengatakan bahwa mobil yang memuat limbah saat itu seingatnya bertuliskan Restu Ibu Abadi,” bebernya.

Ditambahkan Suem, Uruk yang digunakan dalam pengurukan jalan pertanian itu adalah uruk limbah,” pembangunan jalan pertanian tersebut memang benar menggunakan uruk limbah lalu di atasnya dilapisi dengan uruk tanah normal, ” Tandas ketua RW dan juga masih besan dengan eks Kepala Desa Cendoro.

,” Meski Pak Kades adalah besan saya, namun saya berbicara apa adanya, sebab para petani maupun kelompok tani tidak pernah diajak berunding soal pembangunan jalan baru tersebut, semua apa kata pak Kepala Desa, ” Cetusnya.

Masih kata Suem, masyarakat tani sangat kecewa dengan mantan Kades, mengapa membangun jalan pertanian pakai uruk limbah, ini kan berbahaya. Apalagi saat pembangunan jalan ini tanpa ada musyawarah,” katanya.

jalan pertanian yang diuruk limbah Jalan sepanjang 500 meter di sebelah pemukiman warga yang menuju Jalan pertanian dengan lebar 3 meter di Dusun Pelem Desa Cendoro Kecamatan Dawarblandong Kabupaten Mojokerto, ternyata diurug dengan limbah baja jenis Steel slag. Seperti diketahui limbah baja jenis Steel slag merupakan limbah hasil peleburan baja dan besi bekas yang termasuk dalam kategori limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) dan menjadi salah satu masalah lingkungan yang harus dipikirkan baik oleh masyarakat maupun instansi terkait. Dari pantauan Wartawan , sangat nampak dan jelas, uruk yang digunakan untuk jalan pertanian tersebut dugaan kuat dari jenis limbah B3 ( Bahan beracun berbahaya) jenis limbah Steel slag, namun masyarakat setempat banyak yang tidak mengerti bila uruk yang digunakan untuk membangun jalan pertanian tersebut adalah limbah berbahaya. Ketika Wartawan melakukan investigasi dan memantau dilokasi tersebut, bertemu dengan salah satu warga bernama Sakrib (65), Ia tahu bila uruk yang digunakan buat uruk jalan pertanian adalah limbah, namun pihaknya tak pernah tahu bila limbah tersebut berbahaya, ” Saya tahu sejak awal mas, uruk yang dipakai untuk jalan pertanian adalah limbah, tapi saya tidak tahu bila limbah itu berbahaya,” katanya, Rabu (11/9/2019). Sementara Kepada Dusun Pelem Desa Cendoro Sujai (49) menjelaskan, bahwa pembangunan jalan pertanian ini dengan menggunakan dana Desa, ditanya soal berapa jumlah nilai anggaran, Kepala Dusun tidak bisa menjelaskan kan, ” yang lebih tahu soal jumlah anggaran adalah pak Kades saat itu, “ungkapnya. ,” Dan yang mendatangkan uruk dari limbah ini adalah pak Carik,” jelasnya. Perlu diketahui bahwa jalan pertanian tersebut merupakan jalan baru, selain ada proyek pengurukan jalan, sebelumnya juga dibangun plengsengan penahan jalan, selanjutnya dilakukan pengurukan. Lebih lanjut, warga setempat juga sebagai ketua RW H. Suem (55) menjelaskan, bahwa urug limbah tersebut adalah Sekdes atau Carik yang mendatangkan, tetapi semua juga atas perintah kepala Desa saat itu yakni Kepala Desa (Kades) Ditanya limbah tersebut berasal dari mana, Suem mengatakan bahwa mobil yang memuat limbah saat itu seingatnya bertuliskan Restu Ibu Abadi,” bebernya. Ditambahkan Suem, Uruk yang digunakan dalam pengurukan jalan pertanian itu adalah uruk limbah,” pembangunan jalan pertanian tersebut memang benar menggunakan uruk limbah lalu di atasnya dilapisi dengan uruk tanah normal, ” Tandas ketua RW dan juga masih besan dengan eks Kepala Desa Cendoro. ,” Meski Pak Kades adalah besan saya, namun saya berbicara apa adanya, sebab para petani maupun kelompok tani tidak pernah diajak berunding soal pembangunan jalan baru tersebut, semua apa kata pak Kepala Desa, ” Cetusnya. Masih kata Suem, masyarakat tani sangat kecewa dengan mantan Kades, mengapa membangun jalan pertanian pakai uruk limbah, ini kan berbahaya. Apalagi saat pembangunan jalan ini tanpa ada musyawarah,” katanya. Tak hanya itu, lanjut Suem, petani juga kecewa terhadap kebijakan Kades soal penyewaan Waduk. Desa Cendoro punya aset waduk seluas 3,7 hektar, namun waduk yang semestinya difungsikan untuk pengairan sawah petani, malah dikontrak orang luar untuk usaha perikanan, sehingga ketika petani butuh air tak bisa menngunakannya. Informasi yang saya dapat waduk tersebut dikontrak orang luar selama 10 tahun, nilai kontrak per tahun berapa, masyarakat Desa Cendoro banyak yang tidak tahu, ” pungkasnya. Hingga berita ini ditayangkan Eks Kades Desa Cendoro Supardi belum bisa ditemui, juga dihubungi melalui seluler itupun tidak diangkat. (wo) Mantan Kades Cendoro Bangun Jalan Pertanian Dengan Uruk Limbah

Foto limbah Baja Jenis Steel Slag

Tak hanya itu, lanjut Suem, petani juga kecewa terhadap kebijakan Kades soal penyewaan Waduk. Desa Cendoro punya aset waduk seluas 3,7 hektar, namun waduk yang semestinya difungsikan untuk pengairan sawah petani, malah dikontrak orang luar untuk usaha perikanan, sehingga ketika petani butuh air tak bisa menngunakannya. Informasi yang saya dapat waduk tersebut dikontrak orang luar selama 10 tahun, nilai kontrak per tahun berapa, masyarakat Desa Cendoro banyak yang tidak tahu, ” pungkasnya.

Hingga berita ini ditayangkan Eks Kades Desa Cendoro Supardi belum bisa ditemui, juga dihubungi melalui seluler itupun tidak diangkat. (Syim)

Tambang Bodong Desa Dlanggu Di Grebek Polisi

MOJOKERTO. Sorotindomedia.com Aktifitas tambang tanah urug yang berada di Dusun/Desa Dlanggu Kecamatan Dlanggu Kabupaten Mojokerto akhirnya di grebek polres Mojokerto.

Dari informasi yang dihimpun awakmedia, penggrebekan ini dilakukan oleh polres Mojokerto sekitar pukul 16.00 Kamis (23/5/2019) sejumlah 5 anggota buser Reskrim Polres Mojokerto langsung menghentikan aktifitas tambang yang diduga kuat illegal.

Ketika itu , sejumlah lima anggota buser tersebut langsung mengamankan 4 orang diantaranya Edy sebagai pemilik lahan, sopir bego, supir dumptruk bersama keneknya, mereka langsung diamankan di Mapolres Mojokerto.

Terpisah ketua Forkim Mojokerto Sugiantoro menyampaikan sudah benar apabila polres Mojokerto menutup tambang tersebut, saya sendiri sebagai korban yang berdampak sebab saya punya tanah bersebelahan dengan tambang tersebut,” kata Sugiantoro.

,” Apabila kegiatan tambang ini tidak segera ditutup, kami sudah melayangkan surat pemberitahuan aksi kepada Polres Mojokerto, akan kami lakukan aksi unjuk rasa pada tanggal 28 mei 2019 bersama masyarakat yang berdampak akibat tambang liar tersebut, “ungkapnya.

Masih kata Sugiantoro, harapan kami Polres Mojokerto harus serius menangani kegiatan tambang illegal tersebut, selain ijin tambang tidak jelas akibatnya pasti merusak lingkungan sekitar, ” tambahnya.

Sementara Kasat Reskrim Polres Mojokerto AKP AKP Muhammad Solikhin Fery membenarkan apabila ada penutupan tambang di Desa Dlanggu, dan saat ini masih dilakukukan pemeriksaan saksi-saksi,” tandasnya. (Syim)

Terungkap Terduga Pembakaran Mayat, 2 Pelaku Warga Mojokerto

Mojokerto SorotIndoMedia.com Satreskrim Polres Mojokerto Kota dan Tim Jatanras Polda Jatim berhasil meringkus satu terduga pelaku pembunuhan Eko Yuswanto (32) pengusaha rosokan asal Dusun Temenggungan, RT 2 RW 5, Desa Kejagan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Selasa (14/5/2019).

Pelaku diketahui berinisial YN. Dia ditangkap petugas di rumahnya di Kenanten Gg.2, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, Selasa (14/5/2019) dinihari. Selanjutnya, YN langsung dibawa ke Mapolres Mojokerto Kota pada untuk dilakukan pemeriksaan.

Selain YN juga ada satu lagi pelaku lain yang lebih dahulu diamankan yakni tetangga Eko sendiri, berinisial P (38) asal Dusun Temenggungan, Desa Kejagan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto,” kata Kasubag Humas Polres Mojokerto Kota AKP Katmanto.

,”Ia ditangkap pertama kali oleh petugas gabungan pada Senin (13/5/2019) hanya beberapa jam pasca penemuan mayat yang dibakar di Desa Gunungsari, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto.

Seperti diketahui mayat Eko ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Seluruh tubuhnya gosong akibat dibakar. Bahkan, petugas pun sempat kesulitan untuk mengenali jenis kelaminnya. Hingga sempat dikabarkan mayat yang dibakar itu merupkan seorang perempuan, diduga kuat pembunuhan ini tergolong sadis.

Petugas Jatanras Polda Jatim dan Satreskrim Polres Mojokerto, masih berupaya mengungkap motif dibalik misteri kasus pembunuhan dan pembakaran, dengan melakukan pemeriksaan dan pengembangan,”pungkasnya(syim)

Babinsa Tunggal Pager Koramil 0815/11 Pungging Dampingi Poktan Margi Mulyo Panen Padi

Babinsa Koramil 0815/11 Pungging Kodim 0815 Mojokerto Serma Muhammad Ainun melaksanakan pendampingan panen padi di Desa Tunggal Pager, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Sabtu (20/04/2019).

Kendati hari libur, Serma Muhammad Ainun tetap semangat melaksanakan pendampingan panen padi di lahan yang ditanami jenis padi varietas Inpari-32 milik Jayadi, Poktan Margi Mulyo, Dusun Jelak, Desa Tunggal Pager.
Panen padi di lahan seluas 4.000 meter ini mencapai hasil tiga ton gabah kering panen, berarti dalam satu hektar tembus 7,5 ton. Sementara untuk saat ini, harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani sebesar Rp 3.600,- per kilogram dan harga gabah kering giling (GKG) dikisaran Rp 4.800,- per kilogram.
Hasil pengamatan Babinsa di lapangan, varietas Inpari 32 ini merupakan salah satu Varietas Unggul Baru (VUB) yang banyak diminati para petani di wilayah Desa Tunggal Pager.  “Biasanya para petani menanam dengan jenis yang berbeda pada masa tanam sebelumnya, seperti Varietas Ciherang dan Situ Bagendit”, ungkapnya.
“Pendampingan yang dilakukan merupakan tugas dan tanggung jawabnya selaku Babinsa dalam upaya khusus pertanian guna membantu petani mewujudkan swasembada pangan,” imbuhnya.
Sekedar informasi, Inpari 32 ini memiliki hasil lebih banyak, rata-rata mencapai 6,3 ton hingga 8, 4 ton per hektar. Kelebihan lainnya dari Inpari 32 ini, jumlah bulir per malai lebih banyak, lebih berat bobotnya dan nasinya juga enak tidak kalah dengan varietas Ciherang.
Masih di wilayah Pungging, kegiatan pendampingan panen padi juga berlangsung di lahan seluas 0,5 hektar yang ditanami jenis padi varietas Ciherang, milik Mujianto, Poktan Tani Makmur, Dusun Ringgit, Desa Kembangringgit.
Panen padi di lokasi ini yang didampingi Serma Sutrisno mendapatkan hasil sebanyak 3,25 ton, atau dalam luasan satu hektar mencapai 6,5 ton.  Saat ini, harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani mencapai Rp 3.600,- per kilogram dan harga gabah kering giling (GKG) sekitar Rp 4.900,- per kilogram.